PERINGATI HARI BURUH: “JBMI DESAK INDONESIA DAN HONG KONG HENTIKAN PERBUDAKAN MODERN”

  • Post author:
  • Post published:4 Mei, 2019
  • Post category:Tak Berkategori
  • Post comments:0 Comments

 

PERINGATI HARI BURUH: “JBMI DESAK INDONESIA DAN HONG KONG HENTIKAN PERBUDAKAN MODERN”

Rabu (01/05/2019) Ratusan PRT migran yang tergabung dalam Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI Hong Kong dan Macau) turun aksi mendatangi dua kantor pemerintahan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan Kantor pemerintah pusat Hong Kong (CGO) sebagai bentuk perayaan hari buruh internasional tanggal 1 Mei 2019 kemarin.

Berjalan dari Victoria Park, sekitar 400 massa aksi mengusung spanduk “Buruh Migran: Bukan Barang Dagangan, Sapi Perahan, Bukan Budak Belian. Hormati Hak Kami Sebagai Pekerja dan Manusia”. JBMI menuntut Pemerintah untuk memperbaiki kondisi kerja Buruh Migran dan menghentikan praktik perbudakan modern.

Dalam pidatonya, Eni lestari, Ketua International Migrants Alliance (IMA) dan ketua Persatuan BMI Tolak Overcharging (PILAR) mengkritisi kebijakan globalisasi neoliberal sebagai penyebab penderitaan rakyat dan buruh di dunia termasuk Buruh Migran. Dia menerangkan kebijakan yang dianut oleh pemerintah-Pemerintah di dunia lebih mementingkan bisnis dan investasi, dibanding kebutuhan mayoritas masyarakat. Imbasnya, taraf hidup rakyat semakin menurun dan kondisi kaum pekerja, lokal maupun migran, kian memburuk.

“Rakyat digusur dan dirampas sumber penghidupannya atas nama pembangunan. Tapi sebenarnya pembangunan untuk siapa? Jutaan orang miskin terpaksa bermigrasi ke negara-negara lain. Tapi bukan berarti hidup mereka lebih baik” jelasnya.

Pemerintah mengeksploitasi keterpaksaan rakyat, memperlakukan sebagai komoditas untuk menambah pendapatan negara. Ironisnya, remitansi buruh migran dijadikan alat pembangunan.

Menurut Maesaroh, ketua Asosiasi Buruh Migran Indonesia di Hong Kong (ATKI) dalam pidatonya di depan KJRI menegaskan bahwa calon buruh migran baik yang lama atau yang baru diharuskan menggunakan jasa PJTKI (PT) dan Agen setiap proses kerjanya. Pemerintah melalui KJRI melarang proses kontrak secara mandiri.

“Ketika BMI masuk PJTKI dan Agen, buruh migran terpaksa membayar potongan yang sangat tinggi, bahkan bisa melebihi aturan Menteri.”

Lanjutnya, prosedur buruh migran meski sudah diatur dalam undang undang penempatan dan perlindungan kemudian aturan tersebut direvisi, tetap tidak menjawab persoalan perlindungan, keselamatan dan keamanan kerja buruh migran dan keluarga.

Undang-undang yang telah dirubahpun tidak menyelesaikan masalah buruh migran dan pemerintah tetap mengirim dan mengalihkan bisnis migrasi ke agen-agen dan perusahaan-perusahaan swasta serta mengumpulkan keuntungan migrasi dari biaya berbagai persyaratan administrasi, mengesahkan biaya penempatan yang tinggi, membiarkan praktek overcharging dan pungutan ilegal, melarang kontrak mandiri dan hanya memberikan pelayanan yang terbatas di konsulat atau KBRI.

Akibatnya, kondisi kerja dan kehidupan buruh migran di Hong Kong semakin memburuk, meningkatnya jumlah kasus perdagangan manusia ke Hong Kong dan kasus penipuan job diluar negeri yang dialami oleh keluarga buruh migran.

Sementara di luar negeri seperti di Hong Kong dan Macau buruh migran mengalami beban dan tekanan ganda dari kebijakan negara pengirim dan penempatan sekaligus. Tanpa jam kerja dan jam istirahat, diupah rendah, dikriminalkan jika berganti-ganti majikan. Buruh migran juga diharuskan tinggal serumah, mengalami diskriminasi, rasisme, dan ketakutan didalam dan di luar rumah majikan.

Tahun 1970 buruh migran sudah mulai marak di Hong Kong. Kontribusi buruh migran sangat besar terhadap perekonomian dan kemajuan Hong Kong. Hingga tahun 2017 terdapat lebih dari 370.000 PRT migran yang datang dari negara miskin dan berkembang bekeja di Hong Kong. 98.5 persen dari jumlah tersebut adalah perempuan.

Hong Kong menjadi salah satu kota dengan biaya hidup yang sangat tinggi di dunia. Kenaikan harga barang dan jasa dua sampai tiga kali setiap tahunnya.
Tentu harga tersebut sangat berimbas terhadap buruh migran sementara kenaikan upah yang diterima sangat kecil. Gaji buruh migran tahun 2019 sebesar HK$ 4,510 jika dibandingkan dengan gaji tahun 1996 HK$ 3,860 selisih selama 23 tahun PRT migran hanya mendapat kenaikan sebanyak HK$ 650.

“Buruh migran telah membebaskan para majikan dari berbagai pekerjaan rumah dan meningkatkan karir. Dari kontribusi angkatan kerja tersebut tentu menambah pendapatan dan kemajuan hingga Hong Kong nampak seperti ini. namun, kontribusi buruh migran dilupakan.” Jelas Sringatin, ketua Indonesian Migrant Workers Union di depan kantor pusat pemerintah Hong Kong.

Sringatin meminta agar pemerintah Hong Kong mau membuat aturan yang melindungi buruh migran diantaranya memasukkan aturan jam kerja dan istirahat sebanyak 11 jam kedalam kontrak kerja buruh migran. Menaikkan gaji secara layak yang memenuhi standar kebutuhan hidup di Hong Kong sebesar HK$ 5,894 per bulan, memastikan akomodasi yang layak untuk PRT Migran dan melarang akomodasi yang tidak manusiawi seperti tidur di toilet, dapur, lorong, lemari, gudang, ruang tamu dan bentuk akomodasi yang tidak aman dan tidak sehat lainnya dalam kontrak kerja. Serta menghapus kebijakan diskriminatif seperti aturan dua minggu, kebijakan wajib tinggal, penolakan visa bagi orang yang dicurigai sebagai “job hooping ” dan larangan visa bagi pekerja Nepal.

Sebelum aksi ke KJRI, JBMI-HK yang beranggotakan Indonesian Migrant Workers Union (IMWU), Asosiasi Buruh Migran Indonesia (ATKI), Persatuan BMI Tolak Overcharging (PILAR), Aliansi Gabungan Migran Muslim Indonesia (GAMMI), Aliansi Liga Pekerja Migran Indonesia (LiPMI) dan organisasi atau grup grup yang berdiri secara independen menggelar forum terbuka di lapangan sepak bola taman Victoria kemudian bergabung dengan ribuan buruh migran sektor lain dan warga lokal Hong Kong dalam forum di lapangan sepak bola taman Victoria pukul 1 siang dilanjutkan dengan aksi berjalan kaki menuju CGO di Admiralty dengan membawa atribut dan gimmick tuntutan peringatan Hari Buruh Internasional yang ke-133.

Berita (SINAR MIGRAN)

Tinggalkan Balasan