Setelah 2 kali Gagal Terbang DN dan OR Akhirnya Bisa Terbang Ke Gabon – Afrika

  • Post author:
  • Post published:10 Juni, 2017
  • Post category:Tak Berkategori
  • Post comments:0 Comments

Setelah Dua Kali Gagal Terbang DN dan OR Akhirnya Bisa Terbang Ke Gabon – Afrika

Kasus pencekalan kembali dialami di Bandara Surabaya. DN dan OR seharusnya berangkat pada tanggal 14 Mei 2017 jam 11:00 WIB. Setelah check in, DN dan OR dan menyerahkan dokumen kepada imigrasi di Bandara Surabaya, namun petugas Imigrasi juanda mencekal keberangkatan mereka dikarenakan belum terdaftar di SISKOTKLN. Petugas imigrasi juga menahan paspor mereka dan meminta DN dan OR untuk mendatakan diri di SISKOTKLN.

DN langsung menghubungi JBMI Indonesia dan diberi arahan langsung untuk lapor ke LP3TKI Surabaya (Loka Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia). DN juga menghubungi pihak perusahaan yang memberangkatkan mereka dan memberitahu bahwa penerbangannya ditolak dan membantu menjadwal ulang penerbangan dari Malaysia ke Gabon-Afrika.

Tanggal 15 Mei 2017 DN menghubungi imigrasi Jember yang membantu awal pembuatan paspornya untuk meminta kejelasan kenapa paspornya ditahan. Namun jawaban petugas imigrasi Jember justru menyalahkan DN dan memberitahu bahwa untuk mengambil paspornya butuh uang banyak karena paspor DN dan OR sudah masuk POLDA Bandara Juanda. DN meminta kontak dan nama POLDA yang menahan paspornya kepada petugas Imigrasi Jember tersebut. Dihari yang sama DN dan OR mendatangi LP3TKI untuk proses pembuatan E-KTKLN dan untuk didata di SISKOTKLN. Dengan syarat membayar asuransi sebesar Rp 400.000. Sore harinya DN dan OR mendapatkan kartu e-KTKLN dan kartu polis asuransi dengan masa berlaku hingga 2019.

Tanggal 16 Mei 2017 DN dan OR mendatangi kembali Imigrasi Bandara Juanda untuk pengambilan paspor dengan menujukan E-KTKLN, namun DN dan OR tidak bisa langsung terbang dan harus menunggu dirumah, dan pihak Imigrasi menyampaikan akan memberi kabar jika sudah bisa terbang tanpa memberi tahu kepastian kapan bisa terbang.

Tanggal 22 Mei 2017 DN dan OR kembali proses terbang dibandara juanda dengan jadwal penerbangan pukul 11:00 WIB. DN dan OR menyerahkan semua dokumen lengkap termasuk menunjukan E-KTKLN ke petugas Imigrasi Bandara Juanda Surabaya, namun petugas imigrasi kembali tidak memperbolehkan terbang dengan alasan bahwa didalam sistim pendataan Imigrasi DN dan OR masih dalam daftar pencekalan. DN menghubungi KABAR BUMI – JBMI Indonesia. Kami langsung mengarahkan untuk mengantri lagi di Imigrasi dan jika masih dilarang terbang, kami akan berbicara langsung dengan petugas dan menanyakan apa penyebab pencekalan yang kedua kalinya ini. Setelah mencoba mengantri dan kembali ditolak, kami menanyakan sebab pencekalan tersebut dan pihak imigrasi di Bandara Juanda menyatakan bahwa yang mencabut pencekalan bukan wewenang dia dan kita diminta untuk menghubungi Imigrasi Pusat.

Setelah itu kami segera melapor ke Dirjen Imigrasi mengenai kasus DN dan OR. KABAR BUMI – JBMI juga mengarahkan DN dan OR untuk menjadwal ulang penerbanganya ke Malaysia ke Air Asia. Namun tiket sudah hangus dan harus membeli kembali, kami mencoba berkomunikasi dengan pihak Air Asia, mereka tidak bisa menjadwal ulang karena ini sudah kedua kalinya, dan hanya bisa memberi keringanan.

Tak lama setelah kami melaporkan dan mengirim semua dokumen kelengkapan, DN dan OR dipanggil pihak Imigrasi Bandara Juanda dan disuruh menunggu pencabutan pencekalan hingga jam 14:00 WIB. DN dan OR akhirnya bisa terbang ke Malaysia jam 15:30 WIB dengan pesawat Air Asia.
Kasus Pencekalan yang dialami oleh BMI yang sedang cuti maupun pertama kali berangkat kerja keluar negeri terus bertambah. Dalam waktu satu minggu sudah 6 orang yang mengadu ke JBMI karena ditolak terbang oleh petugas bandara juanda. Kasus yang menimpa DN dan OR adalah buruh migran baru pertama kali kerja keluar negeri dengan negara tujuan Gabon dan dipekerjakan disektor industri pengolahan.

Kenyataaan mengenai pencegahan ini menunjukan walaupun Pak Nusron Wahid sudah mengeluarkan Klarifikasi Pemberlakuan KTKLN No B.29/KA/IV/2017 mengenai BMI yang cuti untuk tidak wajib memperpanjang E-KTKLN, namun kenyataan kebijakan ini tidak terintegrasi dengan kebijakan pihak Imigrasi. Dan pihak imigrasi mengadakan pencegahan penerbangan SE No IMI-0277.GR.02.06 Tahun 2017 Tentang Pencegahan Tenaga Kerja Indonesia Non Prosedural. SE N0. 0277 Tahun 2017, inilah yang digunakan oleh Imigrasi untuk mencegah BMI terbang. Namun standar syarat dari BMI prosedural disetiap imigrasi berbeda-beda, sehingga walaupun kasus DN dan OR sudah lengkap dokumennyapun masih dicekal dan tidak bisa terbang.

Kontak:
Karsiwen (081281045671) Juru Bicara JBMI – Indonesia
Sringatin ( + 852 6992 7878) Koordiantor JBMI

Tinggalkan Balasan